Isra’ & Mi’raj

Kejadian Sebelum Isra’ Mi’raj

Sebelum terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasululloh SAW mengalami tahun –
tahun yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan.
Pertama, pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Bani
Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. Pemboikotan ini, yang hampir membuat kaum
Muslimin mati kelaparan, berlangsung selama tiga tahun. Kedua meninggalnya
isteri beliau Siti Khadijjah yang sangat mensupport perjuangan beliau, bersama
dalam suka maupun duka, juga sempat mengalami berbagai tekanan dari Kaum
Kafir. Siti Khadijah menjadi isteri sejak beliau belum diangkat menjadi Rasul.
Ketiga meninggalnya paman beliau yang aman dicintai Abu Thalib. Seorang
paman yang selalu memberikan perlindungan terhadap Rasul dari tekanan dan
serangan Kaum Qurays. Kesedihan semakin mendera ketika melihat, bahwa
paman yang beliau cintai meninggal “tidak dalam keadaan islam”.

Rangkaian kejadian yang menyedihkan tersebut, ada yang memaknai sebagai
tercabutnya simbol harta, tahta dan wanita. Harta tergambarkan oleh
“pemboikotan kaum kafir hingga kelaparan (unsur ekonomi)”, tahta
tergambarkan dari “meninggalnya Abu Thalib” yang selalu melindungi Rasul dari
tekanan kaum kafir Quraisy, serta wanita tergambarkan dari “meninggalnya isteri
beliau Siti Khadijah”. Hal ini yang dimaknai pula sebagai “upaya hamba untuk
mencabut 3 hal tersebut dari hati, tatkala akan menuju sebagai “mi’rajnya orang-
orang beriman”.

Peristiwa Isra’ Mi’raj


Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang Isra' :



"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad
SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-
tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui."


Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm :13 – 18 :



"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam
rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul
Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha
diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya
itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian
tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."


Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui',
suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa
mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari
batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang
menerangkan apa, di mana, dan bagaimana Sidratul Muntaha itu.

Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits - hadits nabi.
Berikut rangkaian kisah Isra’ & Mi’raj Rasulullah SAW (dikumpulkan dari berbagai
sumber):

Suatu malam datanglah malaikat Jibril, seraya berkata : “Hai Muhammad
berdirilah”. Maka sayapun berdiri, kiranya Jibril bersama dengan Mikail. Kata
Jibril kepada Mikail “Berikanlah kepada saya sebuah bejana penuh dengan air
zamzam, karena saya akan membersihkan hati Muhammad dan melapangkan
dadanya.

Maka Jibril membedah perut saya dan mencucinya tiga kali dan sungguh Mikail
telah memberikan kepada Jibril tiga bejana penuh dengan air berturut-turut,
maka dia melapangkan dada saya dan mencabut bersih rasa dengki, bahkan
memenuhinya dengan hikmah, ilmu dan iman dan memberikan stempel kenabian
diantara dua pundak saya. Kemudian Jibril membimbing tangan saya sampai
kesiraman, lau berkata kepada Mikail, “ Berikan kepadaku satu bejana air
zamzam atau air telaga kautsar” dan Jibril berkata kepada saya, “Ambillah air
wudhu, hai Muhammad !”.Sayapun mengambil air wudhu. Kemudian Jibril
berkata :”Pergilah hai Muhammad !”, “Kemana ?”, kata saya. “Kepada Tuhanmu
dan Tuhan Segala Sesuatu.”

Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang mempunyai dua
sayap untuk berjalan bagaikan kilat dan langkahnya sejauh pandangan mata.
“Dia (buraq) itu milik Nabi Ibrahim as. Yang dia kendarai sewaktu berkunjung ke
Baitul Haram” Kata Jibril. “Naiklah Muhammad !”, Kata Malaikat Jibril. Kemudian sayapun naik buraq. Kemudian buraqpun berjalan dan bersamanya Malaikat
Jibril. “Turunlah engkau Muhammad dan kerjakan !”, kata Jibril kepada saya.
Sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau dimana engkau ?” tanya
Jibril. “Tidak”, jawab saya. “Engkau telah di Thaibah, dan Insya Allah engkau
akan hijrah ke kota itu”.

Kemudian kamipun melanjutkan perjalanan, hingga Jibril berkata, “Turunlah
Engkau Muhammad dan kerjakan ”, sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah
engkau, dimana engkau ?”, tanya Jibril. “Tidak” jawab saya. “Engkau telah di
Tursina dimana Allah berbicara dengan Musa.” Kemudian perjalanan dilanjutkan,
hingga Jibril berkata, “Turunlah engkau Muhammad, dan kerjakan !” sayapun
turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau, dimana engkau ?”, tanya Jibril.
“Tidak” jawab saya. “Engkau telah di Baiti Lahmin/Betlehem, dimana Isa as.
dilahirkan.”

Kemudian perjalanan dilanjutkan hingga sampai di Baitil Maqdis dan setelah
selesai perjalanan, maka disitu saya bersama-sama Malaikat yang turun dari
langit yang menyambut saya dengan gembira dan hormat dari Allah Ta’ala,
seraya berkata :”Assalamu ‘alaika ya awwalu, yaa aakhiru, yaa haasyiru”
(Semoga keselamatan tetap untuk engkau wahai yang pertama dan yang
terakhir dan yang menghimpun). “Hai Jibril apakah maksud penghormatan /
salam mereka kepada saya itu ?” tanya saya kepada Jibril. Jibrilpun menjawab,
“Sesungguhnya dari sebab engkaulah yang pertama kali bumi ini menjadi ada /
pecah belah dan dari sebab umat engkau, engkau sebagai penolong yang
pertama kali, dan yang pertama kali pula memberikan pertolongan, dan
sesungguhnya engkau itu pungkasan dari para nabi serta penghimpunanpun
dengan sebab engkau dan umat engkau.”

Kemudian kamipun terus lewat sehingga sampai di pintu masjid, kemudian
Malaikat Jibril menurunkan saya dari buroq. Tatkala saya masuk pintu ternyata di
situ saya bersama-sama dengan para nabi dan para utusan. Merekapun bersalaman kepada saya dan menghormati saya sebagaimana
penghormatannya para Malaikat. Kemudian sayapun bersama mereka. “Hai
Jibril, siapakah mereka?”, tanyaku kepada Jibril. Jibrilpun menjawab, “Mereka
adalah saudara saudara engkau para nabi ‘alaihimush shalaatu wassalam”.

Dalam perjalanan sebelum sampai di Baitil Maqdis, saya mendengar panggilan
dari arah kanan, “Hai Muhammad pelan pelanlah !”, maka saya terus saja dan
tidak menghiraukan kepada suara itu. Kemudian saya dengar pula syara dari
arah kiri dan sayapun tidak berpaling kepada suara itu. Lalu saya dijumpai oleh
seorang perempuan sedang dia memakai segala macam perhiasan serta
melambai lambaian tangannya dan berkata, “Hai Muhammad, pelan-pelan !”,
maka sayapun terus saja dan tidak berpaling kepadanya.

Setelah di Baitil Maqdis, sayapun bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, saya
mendengar suara dari arah kanan (suara siapakah itu) ?”, “Itu adalah suara
propagandis agama Yahudi, maka ketahuilah sesungguhnya kalau kamu
berhenti, niscaya umatmu menjadi orang-orang yahudi”. Kemudian sayapun
bertanya, “Sayapun mendengar suara dari arah kiri, (suara siapakah itu) ?”. “Itu
adalah suara provokasi agama Nasrani, maka ketahuilah sesungguhnya kalau
kamu berhenti, niscaya umatmu menjadi orang-orang nasrani ; dan adapun
orang perempuan yang menjumpai kamu ialah dunia ini yang telah berhias untuk
kamu, maka sesungguhnya kalau sekiranya kamu berhenti, niscaya umatmu
akan lebih memilih duniawi daripada akhirat.”

Kemudian Jibril membawa Nabi ke sebuah batu besar, maka mulailah Nabi dan
Jibril mendakinya. “Maka disitu terdapat sebuah tangga menghubungkan ke
langit, yang saya belum pernah melihatnya baik dan indahnya, dan belum pernah
orang melihat sesuatu yang lebih indah dari padanya sama sekali. Dan dari
tangga itu para malaikat naik. Pangkal tangga itu diatas batu Baitil Maqdis dan
ujungnya sampai melekat pada langit, satu kaki tangga itu dari permata intan
merah dan kaki yang satunya dari permata intan hijau, sedang anak tangganya satu tingkat dari perak dan tingkat yang lain dari zamrud dan diberi rangkaian
hiasan dari permata dan intan merah. Tangga itupun dipergunakan turun oleh
Malaikat Pencabut Jiwa. Kalau kamu sekalian melihat dari antaramu yang mati
pandangannya menengadah ke atas, maka sesungguhnya daya penglihatannya
terputus ketika melihat keindahan tangga tadi.

Kemudian perjalanan memasuki langit dunia. Di langit ini dijumpainya Nabi Adam
yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka.
Di langit ini pula melihat para malaikat yang berdzikir kepada Allah, semenjak
mereka dicipta oleh Allah SWT.

Kemudian perjalanan dilanjutkan, memasuki langit kedua dijumpainya Nabi Isa
dan Nabi Yahya. Di langit kedua saya melihat para malaikat beruku’ kepada
Allah SWT semenjak mereka diciptakan, mereka tidak mengangkat kepala
mereka.

Perjalanan dilanjutkan menuju langit ketiga bertemu Nabi Yusuf. Di langit ketiga
saya melihat para malaikat bersujud kepada Allah semenjak mereka diciptkan
dan merekapun tidak mengangkat kepala mereka, kecuali saat saya memberikan
salam kepada mereka, dan merekapun mengangkat kepala dan membalas
salam dari Rasulullah, kemudian sujud kembali sampai yaumil qiyamah.

Perjalanan diteruskan ke langit keempat, dijumpai Nabi Idris. Di langit ini, saya
melihat para malaikat duduk tasyahud. Lalu saya bertemu dengan Nabi Harun di
langit ke lima, di langit kelima ini saya melihat para malaikat membaca tasbih.
Kemudian perjalanan di lanjutkan ke langit keenam bertemu Nabi Musa, di langit
keenam ini, saya melihat para malaikat bertakbir dan bertahlil.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju langit ketujuh dan berjumpa dengan
Nabi Ibrahim. Di langit ini saya melihat para malaikat tunduk berserah kepada
Allah, semenjak dicipta oleh Allah SWT. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali
memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya
kalam-kalam ('pena'). Dari Sidratul Muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua
sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat
dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu,
dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian)
engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah.
Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha
itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah wajib. Mulanya
diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi
SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap
meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta
keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela
dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah
meringankannya atas hamba-Ku."

0 comments:

Posting Komentar

GoOpenSource...!!!


Ilmu bukan untuk diperjual-belikan, tetapi untuk di sebarkan.
J
angan mau di kibuli... :D